WhatsApp Icon

Hati yang Lapang Dimulai dari Genggaman yang Terbuka

09/10/2026  |  Penulis: Humas BAZNAS Gowa

Bagikan:URL telah tercopy
Hati yang Lapang Dimulai dari Genggaman yang Terbuka

Opini Ikhlas

Ada seorang ibu yang menghitung uang di telapak tangannya lalu menyisihkan kebutuhan dirinya agar anaknya tetap bisa makan. Ada orang sakit yang menatap resep obat dan tagihan tindakan berharap esok masih ada jalan untuk menebusnya. Ada seorang anak yang ingin menyelesaikan kuliahnya sementara orang tuanya semakin sulit menjanjikan biaya, dalam kehidupan seperti itu sebagian kecil uang yang kita lepaskan dapat berarti satu hari lagi untuk bertahan, satu kesempatan untuk sembuh atau satu harapan yang kembali menyala.

Namun membuka genggaman memang tidak selalu mudah, didalamnya ada hasil kerja keras, kecemasan tentang hari esok, dan keinginan yang belum terpenuhi. Karena itu ketika diajak berbagi terkadang kita berkata, “Saya Belum Ikhlas” Kalimat itu patut kita dengarkan dengan jujur lalu kita renungkan apakah hati harus sepenuhnya lapang sebelum tangan memberi atau justru melalui pemberian itulah hati perlahan belajar menjadi lapang?

Pernyataan “Saya Belum Ikhlas” terdengar jujur dan religius namun mari kita bertanya kedalam diri apakah benar ketidakikhlasan menjadi alasan untuk berhenti berbagi atau justru menjadi tanda bahwa hati kita masih perlu belajar berbagi?

Kita sering mengira bahwa ikhlas harus datang lebih dahulu barulah tangan bergerak memberi padahal dalam banyak perkara hati justru dididik melalui perbuatan, orang tidak selalu rajin lebih dahulu baru kemudian salat, kadang-kadang ia memaksa dirinya salat secara teratur lalu perlahan menemukan kekhusyukan. Seseorang tidak harus mencintai ilmu sebelum membaca, ia mulai membaca dengan disiplin kemudian tumbuh kecintaan kepada ilmu.

Demikian pula dengan infaq dan sedekah tidak semua orang memulai dari hati yang sepenuhnya bersih ada yang memberi karena kebiasaan, malu, dorongan lingkungan, atau sekadar memenuhi imbauan. Namun dari tindakan yang terus dilakukan hati dapat tumbuh menjadi lebih peka jika kita menunggu ikhlas sempurna sebelum berbuat baik mungkin sampai tua kita tidak akan pernah memulai.

Alasan Belum Ikhlas hampir selalu muncul ketika kita diminta mengeluarkan uang tetapi ketika menerima gaji, tunjangan, tambahan penghasilan, fasilitas jabatan, dan berbagai hak lainnya, tidak ada yang berkata saya belum ikhlas menerimanya. Namun ketika sebagian kecil dari penghasilan itu diajak untuk dialirkan kepada fakir miskin, anak yatim, korban bencana, atau warga yang sedang kesulitan berjuang melawan penyakitnya persoalan keikhlasan tiba-tiba menjadi sangat penting.

Barangkali yang belum siap bukan keikhlasan kita melainkan rasa kehilangan kita, padahal bagi penerima nominal buanlah hal yang sangat berarti bagi seseorang yang dapat dibelanjakan menjadi beras, obat, biaya pendidikan atau penyambung hidup satu keluarga.

Kita memang tidak boleh menilai isi hati seseorang, ikhlas merupakan hal yang hanya diketahui oleh Allah, namun karena ikhlas berada di dalam hati tidak semestinya dijadikan tameng untuk menghentikan kebaikan, jangan sampai kalimat saya belum ikhlas sebenarnya merupakan cara yang terdengar tidak baik Ketika dikatakan saya belum rela uang saya berkurang.

Keimanan tidak selalu diukur dari banyaknya masjid yang kita bangun atau berapa kali kita naik haji dan umroh tapi juga diukur dari seberapa banyak manfaat yang bisa membantu kepada sesama, oleh karena itu kita harus mempunyai ilmu beramal, yang punya pangkat dan kekuasaan beramallah dengan kekuasaanmu dan yang punya harta beramallah dengan hartamu.

Mungkin kita tidak pernah benar-benar siap untuk kehilangan sebagian dari milik kita tetapi justru dengan kita melakukan infaq dan sedekah maknanya, memberi sesuatu yang tidak terasa hilang memang mudah dan sulit memberi ketika kita masih belum mengikhlaskannya. Karena itu jangan menunggu ikhlas untuk mulai berbagi, mulailah berbagi sambil terus belajar ikhlas. Jika menunggu hati benar-benar suci, jangan yang lebih dahulu datang bukan keikhlasan melainkan kematian, dan kita sudah diingatkan dalam Al Qur’an dalam surah Al Munafiqun ayat 10: "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), 'Ya Tuhanku, sekiranya engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh” dan pada saat itu harta kita yang mati-matian kita pertahankan tidak lagi bertanya apakah kita sudah ikhlas meninggalkannya.

Bagikan:URL telah tercopy
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Gowa.

Lihat Daftar Rekening →