WhatsApp Icon
Hati yang Lapang Dimulai dari Genggaman yang Terbuka

Ada seorang ibu yang menghitung uang di telapak tangannya lalu menyisihkan kebutuhan dirinya agar anaknya tetap bisa makan. Ada orang sakit yang menatap resep obat dan tagihan tindakan berharap esok masih ada jalan untuk menebusnya. Ada seorang anak yang ingin menyelesaikan kuliahnya sementara orang tuanya semakin sulit menjanjikan biaya, dalam kehidupan seperti itu sebagian kecil uang yang kita lepaskan dapat berarti satu hari lagi untuk bertahan, satu kesempatan untuk sembuh atau satu harapan yang kembali menyala.

Namun membuka genggaman memang tidak selalu mudah, didalamnya ada hasil kerja keras, kecemasan tentang hari esok, dan keinginan yang belum terpenuhi. Karena itu ketika diajak berbagi terkadang kita berkata, “Saya Belum Ikhlas” Kalimat itu patut kita dengarkan dengan jujur lalu kita renungkan apakah hati harus sepenuhnya lapang sebelum tangan memberi atau justru melalui pemberian itulah hati perlahan belajar menjadi lapang?

Pernyataan “Saya Belum Ikhlas” terdengar jujur dan religius namun mari kita bertanya kedalam diri apakah benar ketidakikhlasan menjadi alasan untuk berhenti berbagi atau justru menjadi tanda bahwa hati kita masih perlu belajar berbagi?

Kita sering mengira bahwa ikhlas harus datang lebih dahulu barulah tangan bergerak memberi padahal dalam banyak perkara hati justru dididik melalui perbuatan, orang tidak selalu rajin lebih dahulu baru kemudian salat, kadang-kadang ia memaksa dirinya salat secara teratur lalu perlahan menemukan kekhusyukan. Seseorang tidak harus mencintai ilmu sebelum membaca, ia mulai membaca dengan disiplin kemudian tumbuh kecintaan kepada ilmu.

Demikian pula dengan infaq dan sedekah tidak semua orang memulai dari hati yang sepenuhnya bersih ada yang memberi karena kebiasaan, malu, dorongan lingkungan, atau sekadar memenuhi imbauan. Namun dari tindakan yang terus dilakukan hati dapat tumbuh menjadi lebih peka jika kita menunggu ikhlas sempurna sebelum berbuat baik mungkin sampai tua kita tidak akan pernah memulai.

Alasan Belum Ikhlas hampir selalu muncul ketika kita diminta mengeluarkan uang tetapi ketika menerima gaji, tunjangan, tambahan penghasilan, fasilitas jabatan, dan berbagai hak lainnya, tidak ada yang berkata saya belum ikhlas menerimanya. Namun ketika sebagian kecil dari penghasilan itu diajak untuk dialirkan kepada fakir miskin, anak yatim, korban bencana, atau warga yang sedang kesulitan berjuang melawan penyakitnya persoalan keikhlasan tiba-tiba menjadi sangat penting.

Barangkali yang belum siap bukan keikhlasan kita melainkan rasa kehilangan kita, padahal bagi penerima nominal buanlah hal yang sangat berarti bagi seseorang yang dapat dibelanjakan menjadi   beras, obat, biaya pendidikan atau penyambung hidup satu keluarga.

Kita memang tidak boleh menilai isi hati seseorang, ikhlas merupakan hal yang hanya diketahui oleh Allah, namun karena ikhlas berada di dalam hati tidak semestinya dijadikan tameng untuk menghentikan kebaikan, jangan sampai kalimat saya belum ikhlas sebenarnya merupakan cara yang terdengar tidak baik Ketika dikatakan saya belum rela uang saya berkurang.

Keimanan tidak selalu diukur dari banyaknya masjid yang kita bangun atau berapa kali kita naik haji dan umroh tapi juga diukur dari seberapa banyak manfaat yang bisa membantu kepada sesama, oleh karena itu kita harus mempunyai ilmu beramal, yang punya pangkat dan kekuasaan beramallah dengan kekuasaanmu dan yang punya harta beramallah dengan hartamu.

Mungkin kita tidak pernah benar-benar siap untuk kehilangan sebagian dari milik kita tetapi justru dengan kita melakukan infaq dan sedekah maknanya, memberi sesuatu yang tidak terasa hilang memang mudah dan sulit memberi ketika kita masih belum mengikhlaskannya. Karena itu jangan menunggu ikhlas untuk mulai berbagi, mulailah berbagi sambil terus belajar ikhlas. Jika menunggu hati benar-benar suci, jangan yang lebih dahulu datang bukan keikhlasan melainkan kematian, dan kita sudah diingatkan dalam Al Qur’an dalam surah Al Munafiqun ayat 10: "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), 'Ya Tuhanku, sekiranya engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh” dan pada saat itu harta kita yang mati-matian kita pertahankan tidak lagi bertanya apakah kita sudah ikhlas meninggalkannya.

09/10/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Gowa
Ramadhan Hari ke-12: Menguatkan Kepedulian Melalui Zakat, Infak, dan Sedekah bersama BAZNAS Kabupaten Gowa

Memasuki hari ke-12 di bulan suci Ramadhan, semangat berbagi dan kepedulian sosial semakin terasa di tengah masyarakat. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah secara spiritual, tetapi juga momentum terbaik untuk memperkuat solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Di Kabupaten Gowa, peran strategis ini dijalankan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Gowa sebagai lembaga resmi pengelola zakat.

Zakat merupakan rukun Islam yang memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial. Di bulan Ramadhan, pahala setiap amalan dilipatgandakan, termasuk menunaikan zakat. Selain zakat fitrah yang wajib ditunaikan menjelang Idul Fitri, umat Islam juga dianjurkan untuk menunaikan zakat maal (zakat harta) apabila telah memenuhi nisab dan haul.

Melalui BAZNAS Kabupaten Gowa, zakat yang ditunaikan masyarakat dikelola secara profesional, transparan, dan disalurkan kepada delapan golongan penerima (asnaf) sesuai syariat. Dengan pengelolaan yang terstruktur, zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif untuk membantu mustahik bangkit secara ekonomi.

Berbeda dengan zakat yang memiliki ketentuan tertentu, infak dan sedekah dapat diberikan kapan saja dan dalam jumlah berapa pun. Ramadhan hari ke-12 menjadi pengingat bahwa kesempatan berbagi masih terbuka luas.

Program-program yang dijalankan oleh BAZNAS Kabupaten Gowa meliputi:

* Bantuan sembako bagi keluarga miskin ekstrim 

* Santunan anak yatim

* Bantuan pendidikan

* Program bedah rumah

* Bantuan modal usaha mikro

Infak dan sedekah yang dihimpun menjadi energi kebaikan yang langsung dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan di Kabupaten Gowa.

Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya dirasakan saat menerima, tetapi juga saat memberi. Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Gowa, masyarakat dan BAZNAS Kabupaten Gowa, semangat gotong royong dan kepedulian sosial semakin kokoh.

Hari ke-12 Ramadhan ini menjadi momentum refleksi: sudahkah kita menyisihkan sebagian rezeki untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan, Setiap rupiah yang ditunaikan melalui zakat, infak, dan sedekah adalah investasi akhirat sekaligus solusi nyata bagi persoalan sosial.

Mari jadikan Ramadhan sebagai bulan transformasi diri dan sosial. Percayakan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kabupaten Gowa agar manfaatnya lebih luas, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

Semoga di hari ke-12 Ramadhan ini, Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita dan menjadikan kita bagian dari orang-orang yang gemar berbagi serta peduli terhadap sesama. Aamiin.

Editor:-HG-

02/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Gowa
Bulan Sya’ban : Momentum Meningkatkan Zakat, Infak, dan Sedekah

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang istimewa dalam kalender Hijriah. Bulan ini berada di antara Rajab dan Ramadan, sehingga sering disebut sebagai masa persiapan spiritual bagi umat Islam sebelum memasuki bulan suci penuh keberkahan. Dalam tradisi Islam, Sya’ban menjadi momentum untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Keutamaan Bulan Sya’ban dalam Islam

Sya’ban memiliki kedudukan khusus karena pada bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadis Rasulullah SAW bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, padahal di dalamnya amal-amal diangkat.

Oleh karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki niat, serta meningkatkan kepedulian sosial sebagai bekal menuju Ramadan.

Menunaikan Zakat di Bulan Sya’ban

Menunaikan zakat, baik zakat maal maupun zakat penghasilan, di bulan Sya’ban memiliki nilai strategis dan spiritual. Secara spiritual, zakat menjadi sarana pensucian harta dan jiwa sebelum memasuki Ramadan. Secara sosial, zakat yang disalurkan lebih awal dapat membantu mustahik memenuhi kebutuhan menjelang Ramadan, seperti kebutuhan pangan dan pendidikan keluarga.

Banyak lembaga zakat juga mendorong masyarakat untuk menunaikan zakat di bulan Sya’ban agar distribusi manfaat dapat lebih optimal dan tepat sasaran.

Infak dan Sedekah: Amalan Ringan, Pahala Berlipat

Selain zakat, infak dan sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya’ban. Infak dan sedekah tidak terikat oleh nisab dan waktu tertentu, sehingga dapat dilakukan kapan saja sesuai kemampuan.

Di bulan Sya’ban, infak dan sedekah menjadi wujud nyata kepedulian sosial terhadap fakir miskin, anak yatim, dan kaum dhuafa. Amalan ini juga melatih kepekaan hati dan solidaritas umat, yang menjadi ruh utama dalam ibadah Ramadan.

Persiapan Menuju Ramadan yang Lebih Bermakna

Menjadikan Sya’ban sebagai bulan memperbanyak ZIS adalah langkah nyata untuk menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan jiwa yang lapang. Dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah sejak Sya’ban, umat Islam tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga turut menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.

Momentum Sya’ban mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial. Semakin kuat kepedulian sosial yang dibangun, semakin besar pula dampak kebaikan yang dirasakan oleh masyarakat luas.

Bulan Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk memperkuat ibadah dan meningkatkan amal kebaikan. Menunaikan zakat, infak, dan sedekah di bulan ini menjadi investasi akhirat sekaligus solusi nyata bagi persoalan sosial umat. Dengan semangat berbagi di bulan Sya’ban, umat Islam diharapkan dapat menyambut Ramadan dengan kesiapan iman, mental, dan kepedulian sosial yang lebih baik.

Editor: _HG_

28/01/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Gowa

Artikel Terbaru

Hati yang Lapang Dimulai dari Genggaman yang Terbuka
Hati yang Lapang Dimulai dari Genggaman yang Terbuka
Ada seorang ibu yang menghitung uang di telapak tangannya lalu menyisihkan kebutuhan dirinya agar anaknya tetap bisa makan. Ada orang sakit yang menatap resep obat dan tagihan tindakan berharap esok masih ada jalan untuk menebusnya. Ada seorang anak yang ingin menyelesaikan kuliahnya sementara orang tuanya semakin sulit menjanjikan biaya, dalam kehidupan seperti itu sebagian kecil uang yang kita lepaskan dapat berarti satu hari lagi untuk bertahan, satu kesempatan untuk sembuh atau satu harapan yang kembali menyala. Namun membuka genggaman memang tidak selalu mudah, didalamnya ada hasil kerja keras, kecemasan tentang hari esok, dan keinginan yang belum terpenuhi. Karena itu ketika diajak berbagi terkadang kita berkata, “Saya Belum Ikhlas” Kalimat itu patut kita dengarkan dengan jujur lalu kita renungkan apakah hati harus sepenuhnya lapang sebelum tangan memberi atau justru melalui pemberian itulah hati perlahan belajar menjadi lapang? Pernyataan “Saya Belum Ikhlas” terdengar jujur dan religius namun mari kita bertanya kedalam diri apakah benar ketidakikhlasan menjadi alasan untuk berhenti berbagi atau justru menjadi tanda bahwa hati kita masih perlu belajar berbagi? Kita sering mengira bahwa ikhlas harus datang lebih dahulu barulah tangan bergerak memberi padahal dalam banyak perkara hati justru dididik melalui perbuatan, orang tidak selalu rajin lebih dahulu baru kemudian salat, kadang-kadang ia memaksa dirinya salat secara teratur lalu perlahan menemukan kekhusyukan. Seseorang tidak harus mencintai ilmu sebelum membaca, ia mulai membaca dengan disiplin kemudian tumbuh kecintaan kepada ilmu. Demikian pula dengan infaq dan sedekah tidak semua orang memulai dari hati yang sepenuhnya bersih ada yang memberi karena kebiasaan, malu, dorongan lingkungan, atau sekadar memenuhi imbauan. Namun dari tindakan yang terus dilakukan hati dapat tumbuh menjadi lebih peka jika kita menunggu ikhlas sempurna sebelum berbuat baik mungkin sampai tua kita tidak akan pernah memulai. Alasan Belum Ikhlas hampir selalu muncul ketika kita diminta mengeluarkan uang tetapi ketika menerima gaji, tunjangan, tambahan penghasilan, fasilitas jabatan, dan berbagai hak lainnya, tidak ada yang berkata saya belum ikhlas menerimanya. Namun ketika sebagian kecil dari penghasilan itu diajak untuk dialirkan kepada fakir miskin, anak yatim, korban bencana, atau warga yang sedang kesulitan berjuang melawan penyakitnya persoalan keikhlasan tiba-tiba menjadi sangat penting. Barangkali yang belum siap bukan keikhlasan kita melainkan rasa kehilangan kita, padahal bagi penerima nominal buanlah hal yang sangat berarti bagi seseorang yang dapat dibelanjakan menjadi beras, obat, biaya pendidikan atau penyambung hidup satu keluarga. Kita memang tidak boleh menilai isi hati seseorang, ikhlas merupakan hal yang hanya diketahui oleh Allah, namun karena ikhlas berada di dalam hati tidak semestinya dijadikan tameng untuk menghentikan kebaikan, jangan sampai kalimat saya belum ikhlas sebenarnya merupakan cara yang terdengar tidak baik Ketika dikatakan saya belum rela uang saya berkurang. Keimanan tidak selalu diukur dari banyaknya masjid yang kita bangun atau berapa kali kita naik haji dan umroh tapi juga diukur dari seberapa banyak manfaat yang bisa membantu kepada sesama, oleh karena itu kita harus mempunyai ilmu beramal, yang punya pangkat dan kekuasaan beramallah dengan kekuasaanmu dan yang punya harta beramallah dengan hartamu. Mungkin kita tidak pernah benar-benar siap untuk kehilangan sebagian dari milik kita tetapi justru dengan kita melakukan infaq dan sedekah maknanya, memberi sesuatu yang tidak terasa hilang memang mudah dan sulit memberi ketika kita masih belum mengikhlaskannya. Karena itu jangan menunggu ikhlas untuk mulai berbagi, mulailah berbagi sambil terus belajar ikhlas. Jika menunggu hati benar-benar suci, jangan yang lebih dahulu datang bukan keikhlasan melainkan kematian, dan kita sudah diingatkan dalam Al Qur’an dalam surah Al Munafiqun ayat 10: "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), 'Ya Tuhanku, sekiranya engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh” dan pada saat itu harta kita yang mati-matian kita pertahankan tidak lagi bertanya apakah kita sudah ikhlas meninggalkannya.
ARTIKEL09/10/2026 | Humas BAZNAS Gowa
Ramadhan Hari ke-12: Menguatkan Kepedulian Melalui Zakat, Infak, dan Sedekah bersama BAZNAS Kabupaten Gowa
Ramadhan Hari ke-12: Menguatkan Kepedulian Melalui Zakat, Infak, dan Sedekah bersama BAZNAS Kabupaten Gowa
Memasuki hari ke-12 di bulan suci Ramadhan, semangat berbagi dan kepedulian sosial semakin terasa di tengah masyarakat. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah secara spiritual, tetapi juga momentum terbaik untuk memperkuat solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Di Kabupaten Gowa, peran strategis ini dijalankan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Gowa sebagai lembaga resmi pengelola zakat. Zakat merupakan rukun Islam yang memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial. Di bulan Ramadhan, pahala setiap amalan dilipatgandakan, termasuk menunaikan zakat. Selain zakat fitrah yang wajib ditunaikan menjelang Idul Fitri, umat Islam juga dianjurkan untuk menunaikan zakat maal (zakat harta) apabila telah memenuhi nisab dan haul. Melalui BAZNAS Kabupaten Gowa, zakat yang ditunaikan masyarakat dikelola secara profesional, transparan, dan disalurkan kepada delapan golongan penerima (asnaf) sesuai syariat. Dengan pengelolaan yang terstruktur, zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif untuk membantu mustahik bangkit secara ekonomi. Berbeda dengan zakat yang memiliki ketentuan tertentu, infak dan sedekah dapat diberikan kapan saja dan dalam jumlah berapa pun. Ramadhan hari ke-12 menjadi pengingat bahwa kesempatan berbagi masih terbuka luas. Program-program yang dijalankan oleh BAZNAS Kabupaten Gowa meliputi: * Bantuan sembako bagi keluarga miskin ekstrim * Santunan anak yatim * Bantuan pendidikan * Program bedah rumah * Bantuan modal usaha mikro Infak dan sedekah yang dihimpun menjadi energi kebaikan yang langsung dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan di Kabupaten Gowa. Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya dirasakan saat menerima, tetapi juga saat memberi. Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Gowa, masyarakat dan BAZNAS Kabupaten Gowa, semangat gotong royong dan kepedulian sosial semakin kokoh. Hari ke-12 Ramadhan ini menjadi momentum refleksi: sudahkah kita menyisihkan sebagian rezeki untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan, Setiap rupiah yang ditunaikan melalui zakat, infak, dan sedekah adalah investasi akhirat sekaligus solusi nyata bagi persoalan sosial. Mari jadikan Ramadhan sebagai bulan transformasi diri dan sosial. Percayakan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kabupaten Gowa agar manfaatnya lebih luas, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Semoga di hari ke-12 Ramadhan ini, Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita dan menjadikan kita bagian dari orang-orang yang gemar berbagi serta peduli terhadap sesama. Aamiin. Editor:-HG-
ARTIKEL02/03/2026 | Humas BAZNAS Gowa
Bulan Sya’ban : Momentum Meningkatkan Zakat, Infak, dan Sedekah
Bulan Sya’ban : Momentum Meningkatkan Zakat, Infak, dan Sedekah
Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang istimewa dalam kalender Hijriah. Bulan ini berada di antara Rajab dan Ramadan, sehingga sering disebut sebagai masa persiapan spiritual bagi umat Islam sebelum memasuki bulan suci penuh keberkahan. Dalam tradisi Islam, Sya’ban menjadi momentum untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Keutamaan Bulan Sya’ban dalam Islam Sya’ban memiliki kedudukan khusus karena pada bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadis Rasulullah SAW bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, padahal di dalamnya amal-amal diangkat. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki niat, serta meningkatkan kepedulian sosial sebagai bekal menuju Ramadan. Menunaikan Zakat di Bulan Sya’ban Menunaikan zakat, baik zakat maal maupun zakat penghasilan, di bulan Sya’ban memiliki nilai strategis dan spiritual. Secara spiritual, zakat menjadi sarana pensucian harta dan jiwa sebelum memasuki Ramadan. Secara sosial, zakat yang disalurkan lebih awal dapat membantu mustahik memenuhi kebutuhan menjelang Ramadan, seperti kebutuhan pangan dan pendidikan keluarga. Banyak lembaga zakat juga mendorong masyarakat untuk menunaikan zakat di bulan Sya’ban agar distribusi manfaat dapat lebih optimal dan tepat sasaran. Infak dan Sedekah: Amalan Ringan, Pahala Berlipat Selain zakat, infak dan sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya’ban. Infak dan sedekah tidak terikat oleh nisab dan waktu tertentu, sehingga dapat dilakukan kapan saja sesuai kemampuan. Di bulan Sya’ban, infak dan sedekah menjadi wujud nyata kepedulian sosial terhadap fakir miskin, anak yatim, dan kaum dhuafa. Amalan ini juga melatih kepekaan hati dan solidaritas umat, yang menjadi ruh utama dalam ibadah Ramadan. Persiapan Menuju Ramadan yang Lebih Bermakna Menjadikan Sya’ban sebagai bulan memperbanyak ZIS adalah langkah nyata untuk menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan jiwa yang lapang. Dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah sejak Sya’ban, umat Islam tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga turut menghadirkan kebahagiaan bagi sesama. Momentum Sya’ban mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial. Semakin kuat kepedulian sosial yang dibangun, semakin besar pula dampak kebaikan yang dirasakan oleh masyarakat luas. Bulan Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk memperkuat ibadah dan meningkatkan amal kebaikan. Menunaikan zakat, infak, dan sedekah di bulan ini menjadi investasi akhirat sekaligus solusi nyata bagi persoalan sosial umat. Dengan semangat berbagi di bulan Sya’ban, umat Islam diharapkan dapat menyambut Ramadan dengan kesiapan iman, mental, dan kepedulian sosial yang lebih baik. Editor: _HG_
ARTIKEL28/01/2026 | Humas BAZNAS Gowa
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Gowa.

Lihat Daftar Rekening →